Outing pertama bersama mereka yaitu belajar mengenal mangrove di lahan basah tersisa di Jakarta, yaitu Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA). Tujuan dari kegiatan ini adalah mengenalkan pentingnya lahan basah dan habitatnya untuk kehidupan manusia. Mereka mempelajari ekosistem di SMMA, pengamatan burung (birdwatching), menanam bakau, mempelajari kualitas air kali angke, mempelajari daur ulang kertas, foto-foto dan dikejar monyet! :p
Begini ceritanya:
Minggu 2 agustus 2009
Pagi hari sebelum berangkat suasana sudah riuh karena saya datang agak telat ke panti karena kesiangan, lalu juga kue-pesanan terlambat datang karena tukang kue juga kesiangan!
Keriuhan juga ditambah dengan kami yang memberikan obat anti mabuk pada anak-anak yang mabuk kendaraan tapi jadi rusuh karena anak-anak yang biasanya tidak mabok ikut-ikutan minta obat juga +_+.
Setengah jam kemudian kami berangkat. Erwin, yang mabok naik darat, langsung menutup hidungnya begitu ia masuk mobil. Saya duduk di sebelahnya dan memberi semangat.
Ketika mobil mulai berjalan ia keringatan padahal AC mobil menyala. Waaah jangan-jangan ni anak phobia naik mobil. Saya terus memberinya semangat dan menyuruhnya tidur, sambil tak berhenti mengipasinya agar tak kegerahan.
Kami menyewa 2 buah mobil, mobil satu lagi dipandu oleh 3 temanku. Semoga saja anak-anak yang di sana tidak mabok. Pikirku
Ketika sudah beberapa meter lagi sampai, Erwin sepertinya sudah tak sanggup lagi menahan rasa mualnya, hectic pun dimulai lagiii! +_+,,
Jujur saya tak akrab dengan anak kecil yang muntah, biasanya kalau sepupu-sepupuku muntah mereka diurus sama ibunya dan saya memilih kabur karena takut ketularan muntah.
Tapi kali ini saya lah yang bertanggung jawab maka aku melakukan yang biasanya ibu-ibu lakukan pada anak mereka kalau muntah: buru-buru membuka kantong plastik, mengolesi minyak putih, dan [lagi2] memberi semangat karena sepertinya dia khawatir sekali naik mobil.
Harusnya saya baca buku panduan “Mengatasi Anak yang Mabok Kendaraan” dulu nih
….
Perjalanan memakan waktu setengah jam, dan kami tiba pukul 09.00. sampai sana ternyata satu anak di mobil yang satu juga muntah. Sementara bocah-bocah yang masih TK malah tidak mabok dan ketawa-ketiwi aja he,,he,,
Kami disambut oleh fasilitator JGM ketika itu, yaitu Dara dan Fery. 19 anak diminta untuk berdiri melingkar, dan mbak Putri melakukan “pemanasan” dengan permainan terlebih dulu.
Dua anak berpasangan sambil berpegangan tangan, sementara satu anak lagi jongkok di bawahnya.
Jika mbak Putri memberi aba-aba “tupai” maka setiap anak yang jongkok harus pindah ke tempat yang lain. Dan jika mba putri memberi aba-aba “kebakaran” maka 2 anak yang berpegangan tangan harus berganti pasangan.
[eh bener gak yah kaya gitu? Saya tidak konsen mendengarkan karena sibuk jeprat jepret he,,he,,]
Setelah beberapa menit tertawa-tawa memperhatikan Kiki, Ridho dan Themas yang bingung harus lari ke mana dan hasilnya mereka hanya ketawa-ketawa saja sambil lari-lari :p
Kelompok pertama merupakan kelompok yang paling kecil yaitu TK sampai kelas 2 SD, berjumlah 5 orang. paling kecil paling tengil [=p] maka yang menemani pun harus 4 orang pula plus satu fasilitator yaitu mba Putri
Kelompok kedua kelas 3-6 SD berjumlah 7 orang dengan fasilitator Dara, dan kelompok 3 SMP-SMA berjumlah 7 orang dengan fasilitator Fery.
Binokuler pun dibagikan dan dimulailah pengamatan burung (birdwatching). Karena binokuler terbatas maka setiap anak menggunakannya bergantian, dan kelompok yang belum menggunakan binokuler dijelaskan terlebih dulu mengenai tumbuhan-tumbuhan mangrove yang ada di sana.
Ketika melewati bird hide, ada 3 ekor cangak abu yang berada di tengah danau. Anak-anak pun berebutan menggunakan binokuler dan monokuler untuk melihatnya lebih dekat.
Saya berjalan mengikuti kelompok 2 yang ketika itu berada di paling belakang. Ketika kami akan melewati nipah tempat salah satu kelompok monyet ekor panjang bersarang, saya sudah mewanti-wanti anak-anak bahwa di sana banyak monyet sehingga kita harus berhati-hati. Dan benar saja, 4-5 ekor monyet pun keluar dari pepohonan nipah, memperhatikan kami dan berjalan mendekat.
Mungkin karena saking senangnya salah satu anak berteriak, monyet-monyet itu pun kaget dan mereka memasang tampang galak!!
Oh no! Jangan sampe dikejar kaya waktu itu lagi. Pikirku.
Saya dan Dara berbisik pada anak-anak untuk tidak berisik dan berjalan lurus saja tanpa tengak-tengok. tapi salah satu monyet [yg waktu itu juga pernah mengejar] mendekati kami sambil memamerkan taring-taringnya, dan tanpa saya duga ia melompat dari sisi kiri jalan ke sisi kanan melewati kepala kami!!! Dan semua anak pun menjerit. -_________-
Halaaaah maaaaak!!! susah sekali menenangkan anak-anak di saat saya juga harus menenangkan diri sendiri! Karena ini kejaran monyet yang ketiga bagi saya.
Anak-anak pun panik dan si monyet tambah senang menakut-nakuti kami! Dia loncat lagi dari kanan ke kiri, dari kiri ke kanan, dan begitu seterusnya melewati atas kepala kami…
Haaah!! ini [lagi-lagi] seperti sedang syuting “Dikejar Monyet!!”.
“Jangan nengok, jangan panik. kita balik aja okeh!” kami pun berbalik, dan tak jadi meneruskan langkah menyusuri jalan panggung di antara nipah. tapi monyet-monyet itu masih terus mengikuti kami.
“Kak, sendal aku ketinggalan satu..” ucap Junaedi.
“Ni kamu pake sendal aku dulu.” jawabku.
Yang ada di kepalak saya adalah mundur dan jangan sampai dikejar lagi. Takutnya mereka nemplok di kepala anak-anak.
Kami pun kembali ke plasa pohon beringin, di sana sudah ada Mbak Evi. Perjalanan tak diteruskan maka kelompok 2 langsung akan menanam bakau. Anak-anak mengambil gelas mineral bekas yang mereka bawa dan bagian bawahnya sudah diberi lubang. Mereka pun dibagikan sekop dan mengambil lumpur untuk dimasukan ke gelas sebagai media untuk menanam.
Setelah selesai, kelompok 1 dan 3 pun sudah kembali dan bercerita bahwa mereka juga dikejar monyet. Kelompok 1 pun bergantian menanam bakau dan kelompok 3 belajar mengenai kualitas air kali angke.
Setelah itu semua istirahat makan siang dan dilanjutkan belajar mengenai cara mendaur ulang kertas oleh Mas Wawan. Beberapa anak tertarik dan mencoba mencetaknya dengan screen sablon kemudian menjemur hasilnya. Sayangnya tidak bisa langsung dibawa pulang karena belum kering.
Anak-anak kemudian dikumpulkan kembali di ruangan untuk membuat sebuah kreasi yang berhubungan dengan pengalaman hari itu. Mungkin karena baru pertama dan tidak terbiasa, mereka bingung dan lamaaaa sekali mengerjakannya. Mba Evi sang fasilitator kayanya udah gak sabar banget tuh
Wow..! Hari itu luar biasa. Mereka mendapatkan pengalaman baru [termasuk pengalaman dikejar monyet :p] dan semoga kegiatan ini bermanfaat untuk mereka.
Dalam perjalanan pulang, anak-anak kelelahan dan tertidur, tapi salah satu dari mereka berkata: “Kita balik lagi ke sana yuk!”
Terima kasih kepada semua yang telah membantu terlaksananya kegiatan







