Gigi ke-12

“Coba lihat giginya.” Pinta saya pada A untuk membuka mulut. Sekejap ia membuka mulutnya tapi belum sempat saya lihat lebih jauh persoalan gigi geligi ini ia sudah menutup mulutnya lagi.

Dihitung-hitung ini adalah gigi ke-12 yang akan tumbuh. Jangan-jangan tumbuh gigi ini penyebab lagi-lagi ia cenderung menolak makanan dan hanya mau minum susu.

Sejujurnya saya khawatir sekali dengan kemampuan memasak saya yang luar biasa parah. Meski sudah pernah memasak beberapa menu namun setiap kepepet saya akan memasak menu itu lagi itu lagi. Sehingga saya takut A menolak makan karena sesungguhnya ia bosan.

Ini sudah 2 minggu pasca Abang pergi ke tanah suci. Dengan mengungsinya saya dan A yang ke rumah ibu, suasana rumah jadi tambah ramai. Selain karena A dan mas-nya yang serasa reunian, kini personil rumah berasa liburan tiap hari karena kakak saya kini juga sudah resign dan ayah saya pun sudah masuk masa pensiun. Jadi semua komplit di rumah.

Continue reading

Transportasi publik* yang memudar

Tags

Dua hari lalu saya melanjutkan tugas negara untuk mengurus surat pindah domisili antar kecamatan (semoga nantinya bisa saya jabarkan alurnya di sini ya).

Untuk menuju kelurahan dari rumah saya naik ojek online karena rute yang lumayan sulit dijangkau. Sebelum ada ojek online biasanya tetangga saya pada naik ojek, lanjut metromini, lanjut lagi jalan kaki kalau metromininya nggak nyampe tujuan alias muter sebelum penghabisan, kalo capek jalan kaki ya berarti naik ojek lagi sampai kelurahan. Daripada begitu, mending langsung pesen online saja, kan? Kemarin saat saya pertama ke kelurahan dan cek rute plus harganya, saya terpana.

Apah?!! Rp 6.000?!

Continue reading

Mengenang Cupi (2)

“Nggak ada yang tulisannya ‘I Love Emak’, Yul?”  Tanya Cupi suatu hari waktu saya menawarkan kaos bertuliskan “I love books” sebagai penggalangan dana untuk komunitas.

“Haha nggak ada, Cup.”

“Kalo gw pesen bisa?”

“Gw nggak tau kapan bisa bikinnya, Cup. Ini aja desainnya yang udah gw bikin tahun lalu. Sekarang susah nyalain komputernya.” Jawab saya yang saat itu baru beberapa bulan melahirkan.

“Ya udah kapan-kapan aja deh.” Jawabnya lagi.

Ternyata “kapan-kapan” itu menjadi tidak terwujud karena bahkan hingga Cupi pergi saya tak kunjung bisa mengabulkan request-nya.

Cupi saat di pernikahan saya dan Abang

Continue reading

Kawah Sikidang dan burung hantu

Tags

A suka sekali dengan burung hantu. Setiap ada burung hantu di buku ia selalu menyeru saya untuk bernyanyi atau jika dalam satu-dua hari belum membaca buku burung hantu pasti ia akan mencari-cari buku tersebut di antara tumpukan buku (yang berantakan itu).

Kesenangannya pada burung hantu rupanya terbayar saat ia melihat sendiri dari dekat wujud burung tersebut. Ironisnya burung hantu pertama yang ia temui bukanlah burung yang sedang berada di alam liar melainkan diikat pada sebuah pohon. Inilah yang kami temui di Kawah Sikidang, Dataran Tinggi Dieng, Probolinggo.

wp-1473436465016.jpeg

Continue reading

Review ~ sarapan di Madame Kitchen, Tebet  

Selepas birdwatching di Hutan Kota Tebet pada piknik Agustus lalu, kami berniat untuk nyemil-nyemil cantik di kedai pisang bakar yang terletak di depan Taman Kota Tebet. Namun begitu kami memutari hutan kota dan keluar lewat pintu kecil, nampaklah sebuah resto dengan gambar spanduk yang memikat saya: nasi uduk dan nasi kuning. Nama resto tersebut adalah Madame Kitchen.

Ada tangga kecil untuk naik ke resto tersebut karena letaknya yang lebih tinggi dari jalan. Jadi dari atas resto kami bisa leluasa memandang jalan raya dan hutan kota di depan kami.

Continue reading

Jarak rindu

Meski mengaku “we’re still looking at the same sky” tapi toh nyatanya rindu itu datang juga. Menyergap diam-diam setelah lama tak datang. Delapan hingga sembilan tahun lalu dirinya yang sering melakukan perjalanan naik turun gunung tentu berjarak ratusan kilometer dari tempat saya berada. Lalu pasca menikah kami terpisah jarak pulau dan baru bisa melepas rindu setelah 5 minggu.

Kemudian ketika baru dinyatakan mengandung, saya dan dia berjarak Jakarta-Puncak karena ia akhirnya melepas pekerjaan di seberang pulaunya itu dan dua bulan kemudian diterima menjadi PNS. Setelah itu hanya 1-2 kali ia naik gunung dan kami berjarak sekian kilometer.

Tapi hari ini, mulai pukul 7 malam tadi, jarak ribuan kilometer terbentang di antara kami selama kira-kira 40 hari ke depan.

Kalaulah bukan rindu lalu apa namanya?

Continue reading

Mengenang Cupi (1)

Tadinya saya pikir di penghujung bulan Desember 2015 saya akan menulis kenangan tentang satu tahun lalu saat proses melahirkan A. Tadinya saya pikir saya akan disibukkan dengan persiapan menjelang mudik ke Jawa Tengah bersama A pertama kalinya.

Tapi kemudian satu berita datang menghentak: Cupi, kawan kuliah saya saat itu, terbaring di rumah sakit.

Kami pun berniat menjenguknya saat akhir pekan. Dan rasanya jadi tak sabar karena semenjak berita diterima seolah-olah bumi jadi lambat berputar sehingga hari Sabtu tak kunjung datang.

Continue reading

Bepergian dengan MRT di Taipei

Tags

, , , ,

Setidaknya selama seminggu kami banyak berjalan kaki untuk mencapai stasiun MRT terdekat yang kira-kira jaraknya 1 km dari apartemen tempat sepupu kami tinggal.

Berbagai destinasi yang menarik di Taipei rata-rata bisa ditempuh dengan transportasi publik seperti MRT yang sangat tepat waktu kedatangannya. MRT Taipei atau Taipei Rapid Transit System dikelola oleh Taipei Rapid Transit Cooperation. Setiap harinya MRT Taipei melayani sekitar 2 juta penumpang. Satu hal yang saya kagumi yaitu bahwa MRT di kota ini sangat ramah untuk semua penumpang, termasuk difabel, lansia dengan kursi roda, hingga orangtua yang membawa stroller bayi. Accessibility for all!

Continue reading

Piknik dadakan dan bertemu Kaysan, sang birdwatcher cilik

Tags

, ,

Ide untuk piknik di Taman Kota Tebet sebenarnya sudah sempat hinggap di pikiran namun saya urungkan mengingat hari sebelumnya Abang sudah pergi seharian. Tak disangka, hanya selang beberapa menit pagi itu ia malah tiba-tiba berkata, “Ke Taman Tebet, yuk!”

Asyiik! Ini namanya rezeki dadakan!

Maka saya ngebut ngebilas gelas dan piring yang lagi dicuci. Tanpa mandi dulu, langsung beres-beres barang yang mau dibawa dan ngacir lah kami ke taman. Namun Taman Kota Tebet ternyata sangat ramai sehingga kami menepi ke taman di sebelahnya atau yang juga disebut Hutan Kota Tebet. Suasananya cukup ramai tapi masih lebih sepi (sedikit) dibanding taman kota. Ini tempat yang sama waktu saya ikut pengamatan hampir 2 tahun lalu saat A masih di dalam perut.

wp-1471833015786.jpeg

Continue reading